VIVAlife -- Sejak tahun 2010, Indonesia dilaporkan telah berada di jalur yang benar dalam mencapai tujuan pertama dari Tujuan Pembangunan Millenium (MDG) tentang pengurangan jumlah anak yang kekurangan gizi dan berat badan di bawah usia lima tahun.
Tapi, dari survei yang sama juga menunjukkan sebuah peningkatan yang mengkhawatirkan sebesar 36 persen terhadap kekurangan gizi kronik pada anak di bawah usia lima tahun. Hal ini berarti satu di antara tiga anak pada kelompok usia itu memiliki ukuran badan lebih pendek dari standar tinggi badan yang diharapkan untuk usia mereka, seperti di Nusa tenggara Timur, 6 dari 10 anak terhambat pertumbuhannya.
Sementara dari laporan UNICEF mengenai perkembangan asupan gizi ibu dan anak menyatakan bahwa Indonesia memiliki jumlah anak dengan keterlambatan pertumbuhan terbanyak kelima di dunia. Diperkirakan sekitar 7,8 juta anak usia di bawah lima tahun di Indonesia terhambat pertumbuhannya.
Namun, Pemerintah Indonesia telah memberikan komitmennya untuk mengurangi kasus terhambatnya pertumbuhan pada anak di bawah usia lima tahun hingga hanya mencapai 5 persen, sementara untuk mengurangi kasus kekurangan berat badan Indonesia menargetkan akan turun hingga 15 persen.
Perwakilan Khusus Sekretaris Jenderal PBB untuk Ketahanan Pangan dan Gizi, David Nabarro, menyatakan dukungan PBB kepada pemerintah Indonesia dalam upaya peningkatan gizi pada anak-anak.
"PBB mengapresiasi kebijakan Indonesia dalam menciptakan ketahanan pangan dan gizi bagi penduduknya. Indonesia memiliki pergerakan yang baik dalam menyelesaikan masalah gizi buruk dan mengurangi tingkat kelaparan," kata David Nabarro, saat ditemui di acara Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi X Tahun 2012, di LIPI, Jakarta, Selasa, 20 November 2012.
Menurut Deputi Menteri Negara Bidang Sumber Daya Manusia dan Kebudayaan, Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (BAPPENS), Nina Sarjunani, kekurangan gizi merupakan sebuah masalah multifaktor yang terkait dengan pola makan buruk, praktik kebersihan makanan, infeksi pada anak-anak, dan perawatan yang tidak memadai.
"Kekurangan gizi juga erat kaitannya dengan kemiskinan, sehingga diperlukan pendekatan multisektoral yang terkoordinasi dengan baik," kata Nina Sarjunani.
Sementara menurut Perwakilan UNICEF untuk Indonesia, Angela Kearney, memberikan asupan gizi yang benar pada waktu 1000 hari pertama dalam kehidupan seorang anak merupakan hal yang penting, sehingga anak-anak dapat belajar dengan optimal dan memiliki kondisi kesehatan yang baik saat dewasa.
"Anak-anak yang pada masa itu tidak mendapat gizi yang memadai dapat mengalami masalah dalam pertumbuhan. Lebih jauh lagi akan mempengaruhi produktivitas dan pembangunan sebuah negara," kata Angela Kearney.
Komitmen tegas Indonesia terhadap gerakan global peningkatan gizi dan dalam penanganan kekurangan asupan gizi anak diharapkan menjadi fokus dalam arah pembuatan kebijakan pembangunan gizi di Indonesia, sehingga Indonesia memiliki generasi-generasi tangguh di masa depan.
"Upaya peningkatan gizi tersebut berguna untuk mempercepat pencapaian tujuan-tujuan pembangunan jangka panjang nasional," tutup Angela Kearney. (umi)
Source : kosmo[dot]vivanews[dot]com
