Jakarta, Masalah penanggulangan HIV/AIDS di Indonesia masih menjadi PR yang belum terselesaikan. Sebagai ibukota negara, Jakarta justru memiliki kasus HIV tertinggi dibanding provinsi lain di Tanah Air. Untuk mempermudah warga Ibukota memerangi penyakit ini, sekarang periksa HIV/AIDS sudah gratis.
"Kartu Jakarta Sehat sudah mencakup 7 layanan kesehatan terkait HIV/AIDS, termasuk pemeriksaan HIV/AIDS. Kartu ini bisa digunakan di seluruh puskesmas, rumah sakit pemerintah dan rumah sakit yang bekerja sama," kata dr Dicky Alsadik, Penanggungjawab Program HIV AIDS Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta dalam temu media di Gedung Sarinah, Jakarta, Jumat (7/12/2012).
Dr Dicky menuturkan bahwa ketujuh layanan tersebut meliputi pemeriksaan VCT, pemberian metadon, konseling, layanan penyakit penyerta HIV seperti Tubercolusis, layanan jarum suntik steril, pemberian obat ARV serta layanan Preventing Mother to Child Transmission (PMTCT) untuk mencegah penularan HIV dari ibu kepada bayinya.
Berbicara mengenai penyebaran HIV/AIDS di Jakarta, dr Dicky mengakui bahwa kebanyakan disebabkan oleh seks berisiko dan penggunaan narkoba suntik. Jika dipetakan, penularan di daerah Jakarta Barat dan Jakarta Utara lebih banyak disebabkan oleh seks berisiko, sedangkan di Jakarta Timur dan Jakarta Selatan banyak disebabkan oleh penggunaan narkoba.
Yang mengkhawatirkan, ibu-ibu rumah tangga yang tidak berperilaku berisiko juga dapat tertular HIV dari suaminya yang berisiko tinggi. Hal ini pada akhirnya ikut menempatkan anak yang dikandung ibu tersebut berisiko tinggi terinfeksi HIV lewat proses persalinan, menyusui dan transfusi darah.
"Jika seorang anak mulai menggunakan narkoba dan terpapar HIV sejak umur 13-14 tahun, maka ketika ia berumur 23-24 tahun dan sudah menikah, maka istrinya bisa tertular. Itu yang dari narkoba, belum yang dari hubungan seks berisiko," tutur dr Dicky.
Tak hanya itu, dr Dicky juga menyoroti banyaknya generasi muda yang belum memahami bahaya HIV/AIDS di Jakarta. Di antara seluruh remaja Jakarta berusia 15-24 tahun, hanya 21,7 persen saja yang memahami bahaya HIV/AIDS. Padahal untuk dapat mengegolkan target MDG's di tahun 2015 nanti, kesadaran masyarakat harus mencapai setidaknya 95 persen.
( pah/vit)
Source : detik[dot]feedsportal[dot]com