Pasien Transplantasi Rahim Pertama di Dunia Ini Siap Jalani Bayi Tabung

Jakarta, Tak dinyana ada ribuan wanita di Inggris yang terlahir tanpa rahim atau rahimnya harus diangkat akibat kanker dan gangguan kesehatan lainnya. Diperkirakan jumlahnya mencapai 15.000 orang.

Salah satunya adalah Derya Sert. Beruntung pada bulan Agustus 2011, Tuhan menjawab doanya sehingga istri dari Mustafa (35) ini menjadi wanita pertama di dunia yang mendapatkan transplantasi rahim.

Sebagai tindak lanjutnya, dalam waktu dekat Sert akan mulai menjalani prosedur IVF atau bayi tabung untuk memenuhi impiannya menjadi seorang ibu.

Sang dokter bedah, Profesor Omer Ozkan pun mengungkapkan bahwa Sert dapat merespons pengobatan dengan sangat baik sehingga timnya yakin jika kehamilan dengan 'rahim donor' ini dapat diupayakan.

"Ini adalah waktu terlama seorang wanita dapat bertahan tanpa menolak rahim yang ditanamkan dan kami ingin mencapai satu setengah tahun dulu sebelum menindaklanjutinya. Diharapkan hal itu akan terjadi dalam waktu tiga bulan karena kondisinya sejauh ini baik-baik saja," ujar Prof Ozkan yang berasal dari Akdeniz University di Antalya, Turki seperti dilansir dari Daily Mail, Selasa (4/12/2012).

Ketika ditanya apa yang mendasari Sert untuk menjalani prosedur ini, ia berkata, "Jika saya memiliki tongkat ajaib, saya ingin hamil sekarang juga. Saya hanya ingin menggendong bayi dan menjadi seorang ibu."

Prof Ozkan dan timnya akan memakai dua dari 8 embrio Sert yang diambil sebelum prosedur dilakukan lalu mencairkannya untuk kemudian memindahkannya ke dalam rahim Sert. Harapannya upaya ini dapat menghasilkan setidaknya satu bayi atau bahkan bayi kembar.

Transplantasi rahim terobosan Prof Ozkan ini memunculkan harapan yang luar biasa bagi banyak wanita yang tak memiliki rahim untuk bisa menimang bayinya sendiri, terutama di Inggris. Apalagi Inggris notabene melarang keras adanya prosedur kehamilan dengan menggunakan ibu pengganti ( surrogate).

Padahal untuk wanita yang harus kehilangan rahim karena kanker, mereka butuh waktu sedikitnya lima tahun agar bisa terbebas dari penyakit itu dan dianggap layak untuk menjalani prosedur transplantasi rahim.

Belum lagi sejumlah pakar mengklaim kehamilan semacam ini juga berpotensi menyebabkan komplikasi fatal. Kalaupun bisa, bayinya harus dilahirkan melalui operasi caesar yang berisiko.

Risiko lainnya seperti penolakan dari rahim baru dan efek samping dari obat-obatan anti-penolakan yang sangat kuat selama masa kehamilan.

Menanggapi hal itu, Prof Ozkan mengaku tak memungkiri jika transplantasi rahim itu berisiko bagi ribuan wanita yang tak bisa hamil secara 'normal'.

"Banyak orang berpikir bahwa transplantasi rahim itu tidaklah diperlukan karena itu bukanlah prosedur operasi yang bisa menyelamatkan nyawa seseorang dan wanita masih punya pilihan lain seperti adopsi atau surrogacy. Tapi kami menerima aplikasi dari ratusan wanita dari seluruh penjuru dunia yang menginginkan prosedur ini. Mereka sangat membutuhkan ini jadi untuk menyadari pentingnya hal ini, Anda harus bertanya sendiri pada mereka," kisahnya.

Selain Sert, total ada 100 wanita yang di-screening oleh Prof Ozkan untuk menerima organ rahim sehat dari korban meninggal akibat kecelakaan mobil. Dari sekian banyak calon pasien, hanya ada 10 orang yang telah terpilih sebagai resipien dan 3 diantaranya telah mendapatkan persetujuan untuk transplantasi.

Kini ketiga wanita itu tengah menjalani terapi kesuburan. Dari situ tim dokter memperoleh embrio sehat dan layak untuk dikembangbiakkan nantinya.




( nvt/nvt)
Source : detik[dot]feedsportal[dot]com