Ini yang Harus Dilakukan Kalau Suami Suka 'Nyuntik' dan 'Jajan Seks'

Jakarta, Kecenderungan kasus AIDS kini sudah berubah. Jika dulu risikonya lebih banyak ditemui pada pengguna jarum suntik, kini peningkatan infeksi justru ditemukan di kalangan pria-pria yang berisiko tinggi. Kelompok ini terdiri dari pria-pria yang suka bergonta-ganti pasangan seksual tanpa menggunakan kondom atau sering melakukan hubungan seks berisiko.

Data dari Kementerian Kesehatan RI tahun 2005 menemukan bahwa pengidap AIDS yang merupakan pengguna narkoba suntik adalah 55 persen dari seluruh pengidap AIDS, sedangkan dari kelompok heteroseksual sebanyak 34 persen. Di tahun 2012, kecenderungannya berubah. Jumlah pengidap AIDS yang heteroseksual ada sebanyak 77 persen dan pengguna narkoba suntik 12,4 persen.

Hasil Survei Terpadu dan Biologis Perilaku (STBP) tahun 2007 menunjukkan bahwa pria berisiko tinggi hanya mendapat porsi 0,1 persen dari seluruh kasus infeksi HIV. Namun di tahun 2011, prevalensinya mengalami peningkatan 7 kali lipat menjadi 0,7 persen. Walaupun persentasinya masih terbilang kecil, peningkatan ini tidak bisa disikapi sebelah mata.

"Coba kalau kita lihat di kota besar seperti Jakarta. Setelah seharian bekerja, suami pulang dalam keadaan lelah dan hanya punya sedikit waktu bersama istri. Akibatnya aktifitas seksual justru dilakukan saat siang hari atau di luar rumah bersama selingkuhan atau wanita bayaran," kata kata Prof Kuncoro, guru besar psikologi dari UGM kepada detikHealth seperti ditulis, Rabu (5/12/2012)

Masalahnya adalah pria-pria berisiko tinggi ini dapat menularkan infeksinya kepada istri di rumah, yang pada akhirnya dapat menularkan virus kepada bayinya. Kekhawatiran ini amat beralasan jika melihat kasus AIDS pada wanita dan anak-anak selalu meningkat dari tahun ke tahun.

Berdasarkan data estimasi berbagai LSM Peduli HIV/AIDS dan Kemenkes 2010, populasi yang rawan tertular HIV adalah 3,17 juta laki-laki yang suka membeli jasa seks komersil, 214 ribu orang PSK (penjaja seks komersil) dan 1.938.650 istri atau pasangan tetap.

Sedangkan menurut data Kemenkes 2009, kasus AIDS yang telah tercatat ada 604 orang PSK dan 1.970 orang adalah ibu rumah tangga. Artinya, ada lebih banyak ibu rumah tangga yang menderita HIV/AIDS.

Peningkatan ini jelas mengusik perhatian sebab awalnya penyebaran HIV/AIDS banyak dituduhkan akibat hubungan seks berisiko dengan pekerja seks komersial. Tapi nyatanya, kasus infeksi juga banyak dialami ibu-ibu rumah tangga. Lantas bagaimana caranya agar para istri terlindung dari infeksi akibat kesalahan suami?

"Lebih baik istri jangan curiga sebab justru dapat membuat hubungan rumah tangga memburuk. Akan lebih baik jika meningkatkan komunikasi antara pasangan sehingga pasangan sama-sama terbuka. Istri juga harus berperan sebagai istri yang baik agar suami tidak mencari pelampiasan di luar rumah," jelas prof Kuncoro.

Lebih lanjut lagi, prof Kuncoro menjelaskan bahwa penentuan adanya faktor risiko AIDS/HIV akan lebih valid jika dilakukan lewat pemeriksaan. Suami istri harus sama-sama memeriksakan kesehatannya untuk mengetahui keberadaan infeksi HIV dengan jelas.

Meminta suami saja yang diperiksa HIV tentu akan membuat suami merasa diperlakukan tidak adil. Jika pemeriksaan dilakukan bersama, maka pasangan dapat belajar saling terbuka. Apabila nanti ditemukan salah satu atau kedua pihak positif HIV, maka kedua pasangan dapat sama-sama mencari solusinya.


( pah/vit)
Source : detik[dot]feedsportal[dot]com